HANYA BAIT PUISI (1)
Oleh Miki Rahmat
Rentang waktu selalu terabaikan
Dikala mentarimu lebih bercahaya
Sosok bayang pun kini terhapuskan
Hilang, tak berjejak sedikit pun
Maaf, janganlah kecewa
Bila biduk yang ku kayuh kan merapuh
Maaf, janganlah kecewa
Bila dermagamu tak lagi menjadi tempatku berlabuh
Kini aku hanya menjadi lembaran-lembaran kata
Yang terangkai dari peristiwa masa lalu dan masa depanmu
Terkadang rasanya teramat bahagia
Namun terkadang rasanya begitu hancur
Ku bahagia bila kau terjun disetiap baitku
Memahami semua makna yang terbingkai
Tapi ku merasa begitu hancur disaat air matamu terjatuh
Namun aku tak mampu untuk menghapusnya dan memelukmu
Mentariku serasa semakin redup
Langkah kaki pun terombang-ambing tiada kepastian
Hanya mengukir jejak kaki tiada arti
Semoga kesendirian dapat mengalahkan kesunyian
Disisa-sisa senja aku bercerita
Tentang hatiku yang tak lagi berdaya
Yang terus dihujam oleh rasa hampa
Terkadang jenuhnya tiada terkira
Maaf jika aku sering berkata:
Bahwa aku nyaman dengan hati yang hampa
Padahal itu hanyalah dusta semata
Yang memaksaku untuk menjadi munafik dalam cerita
Aku dan jenuhku bersama membatu
Membuatku pedih dikala merindu
Aku dan jenuhku bersama membisu
Membuatku diam terpaku
Sudahkah engkau mengerti senja?
Setiap pedihku yang diakibatkan luka
Membuatku menderita tersiksa
Hanya bait puisi yang mewakili cerita