SEBUAH PUISI UNTUK KEKASIHKU
Oleh Alek Wahyu Nurbista Lukmana
"Karena Aku Adalah Aku Dengan Kamu Untukku,
Dan Kamu Adalah Kamu Dengan Aku Untukkmu"
Begitu yang aku utarakan padamu, Dan kau pun mengutarakanya padaku
Sore itu, ketika senja menghampiri kita, sebelum hujan mengambil alih semua
Hari yang begitu tenang, bersama rintiknya,
Anak-anak bermain tanpa beban, mereka tersenyum,
Layaknya kita yang selalu berpegangan tangan
Saling menatap dan memberi tanda dengan isyarat
“Aku mencintaimu bersama hujan aku menyayangimu”
Kekasih, didalam kata ada cerita,
Didalam cerita ada nada,
Didalam nada ada cinta,
Didalam cinta ada kita,
Kekasih, jika ini berarti kamu, maka itu adalah aku
jika ini berarti mereka, maka itu adalah kita
Kekasih, setiap proses dalam menuju kita
Hingga nantinya kau dan aku akan bersemayam pada jasad yang sama.
Kekasih, setelah ini akan aku ukir nama pada langit itu
Bersama keinginan kau dan aku,
Untuk kita saling mencinta.
Kekasih, padamu adalah tawaku,
Untukmu adalah cintaku
Matamu yang berkilau
Senyummu nun memukau
Meyakinkanku dalam rupamu “Kekasih”
Kekasih, akulah pilihanmu,
Menjadi penggerak dalam batinmu
akulah pilihanmu,
Berpaling dari masa lalumu
akulah pilihanmu,
Ceritaku Untumu
Dan akulah pilihanmu,
Panggilan terakhir untukku.
Kekasih, sebelumnya kita selalu mencari kita
Hingga akhirnya kita menyamai kita
Sampai kita menginginkan kita
Untuk kita berbuat kita.
Kekasih, ini yang terakhir aku sampaikan
Kenginanku untuk memelukmu
Keterikatanku untukmu, yang akan menjadi pendampingku
Hari ini dan nanti “hingga kita tutup usia”.
“Kita memiliki perasaan masing-masing,
dengan perasaan itulah kita bertemu,
dengan perasaan itulah menyatu,
dan dengan perasaan itulah kita saling terhubung,
membentuk sebuah ikatan,
membentuk sebuah kepercayaan,
dengan perasaan yang begitu mendalam,
kepercayaan kau dan aku,
kepercayaan kita untuk saling mencinta,
kepercayaan kita untuk saling menjaga.”