SEDERHANA
Oleh Christian Lim
Aku menonton awan berpesta dengan matahari kala senja
Dan malamnya, barisan bintang berkelip kecil dalam gelap
Aku menonton teknologi di lautan manusia
Dan herannya, mereka jadi budaknya
Para pelukis mencari honor atas karya mereka
Sementara penikmatnya tak sanggup menerima karya itu
Tidak perlu berorasi di depan beton-beton mewah
Tidak perlu memanggil mentari untuk melihat spanduk aspirasi
Dan tidak perlu meruntuhkan gerbang-gerbang tinggi
Sebab nihil hasilnya bila mereka tetap menikmati dunia
Cukupkan saja hidup ini sederhana
Biarkan para pelukis itu bersenang-senang bersama honor itu
Diamkan saja
Tiba-tiba, sebuah nasihat lama perlahan timbul ke permukaan
Ibu bicara padaku,
“Tiada masalah kau tak mampu miliki dunia, asal kau bisa jadi bintang yang meneranginya.”
Bagiku, kehidupan hanya soal perjalanan
Sesuatu yang pasti ada akhirnya
Tiada masalah para eksekutif mampu mendaratkan kaki di Benua Biru
Menikmati Poffertjes di negeri Kincir Angin
Menyusuri bangunan historis di Praha
Indah? Pasti. Bahagia? Belum tentu
Sebab ada satu kalimat bijak dari ayahku
“Kebahagiaan adalah teman terbaik, jika kau hidup dalam kesederhanaan.”
Tak selamanya
Mereka yang berlindung dalam tambang emas, bisa menikmati keabadian
Dan tak seterusnya
Kehidupan berakhir air mata
Jika para manusia berjas bertanya : “Apa yang paling kau banggakan?”
Ku jawab : “Kehidupan.”
“Apa istimewanya hidupmu?”
Ku jawab lagi : “Kesederhanaan yang membuatnya begitu damai.”