BARISAN SEPARUH MAKNAOleh Najwa
Sepagi tadi,
aku menemukan kertas tanpa tulisan yang berisi ungkapan seorang pada yang ia cinta karena Allah.
ia yang mampu menggambarkan kondisi hatinya, tanpa harus berkata dan berbicara.
“Aku tidak memiiki kuasa apapun untuk menahan waktu yang akan membawamu pergi.
Karena sekalipun dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa memilikimu ataupun berhak atas dirimu.
Aku hanya bisa mencintaimu, dan menghidupinya dengan rindu yang terus kupanen di segala musim.
Bahkan aku tidak sempat mempertanyakan kapankah kau harus pergi dan apakah kau akan kembali.
Karena aku cukup bahagia dan berlapang dada saat kau mau membersamaiku.
Aku
harap, rasa ikhlas dan ridhoku terhadap kepergianmu selalu lebih besar
daripada rasa senang yang muncul saat kau bersamaku. Kapanpun itu.
Denganmu, aku telah berhasil menemukan barisan angan-angan yang kemudian menjadi kata-kata indah.
Kata-kata penuh hikmah, dan menghikmahkan.
Bersamamu, aku mengalami segala pengulangan yang seperti pertama kalinya.
Seperti aku tidak pernah merasakannya.
Kau
begitu istimewa, hingga aku sering gagal menumpahkanmu dalam kata-kata
yang kurangkai sendiri. Akhirnya berujung di duabelas kali adukan
secangkir kopi yang menghangatkanku.
Ya. Di sana aku menumpahkannya, berbicara tanpa kata, dan mendengar tanpa suara.
Aku menemukanmu di segala hal yang rahasia.
Aku tetap merasa bersamamu walau di segala hal yang terbatas waktu dan jarak.
Ratusan
hari aku mengenalmu, dan selama itulah aku selalu takjub. Selama itu
pula aku tidak mempercayai bahwa ini benar-benar bukan cerita dongeng,
atau cerita mimpiku semalam.
Selama itu aku terus bertanya apakah benar-benar aku yang dijadikan perempuan beruntung saat ini?
Aku tidak tahu, aku jatuh cinta dengan cara Allah mempertemukan kita.
Begitu rahasia dan penuh makna.
Maka dari itu, aku menganggapnya sebagai anugerah, pemberian dari Allah yang tidak ada sangkut pautnya dengan usahaku.
Murni karena Allah menyayangiku, dan ingin memberiku pelajaran melaluimu.
Sehingga, aku sama sekali tidak berhak menahan kepergianmu.
Aku tidak berhak mengajukan klarifikasi padaNya.
Karena aku tidak pernah mampu memilikimu, akupun tidak mampu menjaga dan melindungimu sebaik Dia.
Dan aku yakin, Dia lah yang paling tahu, Dia yang paling mencintaimu, secinta-cintanya aku.
aku sangat percaya bahwa Dia akan menjagamu baik-baik.
Terima
kasih, aku sampaikan padamu yang bersedia menjadi perantaraNya untuk
membahagianku, memberikan aku ilmu, dan mendewasakan jiwaku.
Cintaku
memang sementara, namun aku sengaja membiarkan rindu terus berbunga dan
menghiasi hidupku. Engkau memang sementara di hidupku, tapi engkaulah
permulaanku menghidupi hidupku untukNya. Melalui engkau.
Tahukah? Ada milyaran rasa yang ingin aku ceritakan kepadamu,
namun aku sering gagal mendefinisikannya melalui kata-kata.
Kata-kata yang rupanya tak seluas anugerahNya.
Kata-kata yang sepertinya tidak mampu dibahasakan selain dengan doa dan keinginan menjadi yang terbaik bagimu.
Maka aku memutuskannya untuk menyimpannya dalam hati.
Mengartikannya lewat caraku memahamimu, bersabar atas kekonyolanmu, dan terus belajar mengenalmu.
Sampai kapanpun.
Karena, kata orang bijak, rasa cinta itu takkan mampu terwakilkan oleh 3600 kata-kata yang mewakilinya.
Ya begitulah.
Maka kutuliskan ini, karena aku seperti tak memiliki ruang lagi untuk menampung rindu-rindu yang terus berbunga.
Percayalah, ungkapan ini hanya sebagian kecil dari sumbernya.
Jangan takut kehabisan daya, karena Allah terus memberikannya hingga saat ini.
Aku tak ingin meminta apapun darimu kecuali kesabaran dalam menerimaku dan bimbingan yang baik untuk menemuiNya dengan baik.
Pun jika engkau tidak puas dengan apa yang aku berikan, katakan saja, dan ajari aku bagaimana cara membuatmu lebih bahagia.
Bagaimanapun aku adalah makhluk penuh salah dan kekurangan itu pasti akan kau temui.
Aku hanya mampu berdoa, semoga Allah terus meganugerahkan aku untuk bersabar dalam kebahagiaan ini.
Semoga Allah juga mentenagaiku untuk mampu membuatmu bahagia.
Dan
semoga rasa ikhlas dan ridhoku untuk melepaskanmu selalu lebih besar
dari segala buncahan rasa yang terjadi saat aku membersamaimu.”
18 Dec 2014
Aku dan segala rahasiaNya.