BOCAH KARDUS DIPELATARAN ISTANA
Oleh Rahayu Putra Angin
K I S A H. . .
Matahari merangkak dilangit tua
Kala kaki terjejak dikota lawas
Kenangan lama menyapa ingatan
Sumringah senyum para penambang pedati
Kota yang menjunjung adat istiadat
Langit tua mendadak bergemuruh
Seakan amarah membucah bagaikan murka
Terseok langkah si bocah kardus
Melawan deru angin dibawah mega kelam
Di hari yang gelap mencekam jelang malam
Lihai jemari membuka lipatan
Mengejar waktu...
Membina kardus jadi wisma perlindungan
Menumpang kapling pada pelataran istana
Agar terhindar dari airmata langit yang berderai
Lelaki gagah...
Wibawah...
Berbalut seragam berwarna coklat
Pengawal istana wakil rakyat
Bengis membongkar wisma kardus si bocah lusuh...
Netra memandang nurani terluka
Rinai hujan tiada sederas airmata jiwa
Keangkuhan hadir dari dalam istana megah
Tanpa belas kasih pada bocah kardus
Di rinai hujan menatap jalanan yang banjir airmata
Ku tatap langit hati bertanya
Adilkah Engkau...
Yang menentukan amal dan dosa
Menggoreskan suratan garis hidup si bocah kardus
Merejam jiwanya dengan ribuan air hujan yang tercurah
Nurani terkoyak...
Moral lenyap sudah...
Hanya airmata...
Dalam tanya terbungkus amarah
Pada-Nya...
Untuk mu...
Bocah kardus di pelataran istana...
Salam...