KAMPUNG HALAMAN
Oleh Alek Wahyu Nurbista Lukmana
Sungai yang mengalir di bawahnya
Istana megah berdiri kokoh dengan cahaya sejauh mata memandang
Kilauan para Bidadari dan Bidadara
Pelayan yang rendah hati dengan senyum nun menenangkan.
Teduh Pandangnnya, cantik parasnya
Elok lakunya, dan siap menemani hingga kematian tak lagi dapat dirasa.
yah, Kelak di kampung halaman
Tempat yang sama sekali belum pernah di kunjungi
Keindahan yang sama sekali belum pernah terlihat
Aroma yang sama sekali belum pernah tercium
Dan penghuni yang sama sekali belum pernah terbayangkan
Ada yang merasa bahagia dan senantiasa Bersyukur
Ada yang takut guna mempertanggung jawabkan semua kelalaian semasa hidup
yah, Kelak dan kelak
Di hari pembangkitan
Semua tumbuh layaknya bunga
Fisik yang menyerupai ayahnya Adam bagi lelaki,
Dan menyerupai Ibunya Hawa bagi yang perempuan
Paras yang menyerupai Yusuf
Dan Hati yang menyerupai Ayyub
Semua digiring kehadapan Rabbnya
Ada yang tersenyum ada pula yang tertunduk
Menanti giliran dengan buku Amal yang bertebangan
Dari arah kanan, kiri dan belakang
Hari kebangkitan, hari pembalasan
Timbangan yang akan menentukan nasib
Timbangan yang akan membawa kita menuju tempat terakhir Surga atau Neraka
Kampung halaman dengan segala Kenikmatan (Surga)
Kampung halaman dengan segala Kemurkaan (Neraka).
~Alek Wahyu~