SELAKSA RINDU
Oleh Arini Abdillah
Tuturmu teduh bagai semilir angin
Menggelitik saluran eustacius
Menggetarkan ruas-ruas koklea
Melumaskan tulang-tulang pendengaran
Berjalan lamban menelusuri celah-celah kecil menuju serebrum
Saat kau nyatakan isyarat yang mengatas namakan rindu
Aku terbungkam seribu aksara
Jika itu benar rindu?
Mengapa yang kau kirimkan hanya nestapa lewat suara
Cukuplah saja kau bersua dengan tuhanmu
Lontarkan saja apa yang kau mau
Tak usah kau buang waktumu untuk memberitahuku
Doamu lebih syahdu ketimbang pernyataanmu