DILEMA DALAM RINDU SHINTA
Oleh Munandar Harits W.
Bila kucabut duri lukaku
Kau bilang, sukma Shinta kekal di situ
Tak perlulah kau curiga begitu
Karena kau paham lagi tahu
shinta tak lagi juga menginginkanku
Tapi bagaimana hendak kucabut akan itu
Senyum pongah Rahwana kelabu biru
Sudah! Tak perlu kau sedih sedan begitu
Karena kau paham lagi tahu
Prawesti tak dicipta tuk diciderai daku
Kepada bintang aku hendak mengadu
Akan kesempatan yang tiada kutemu
Kepada bulan aku berseru
Akan nestapa cinta yang menderu-deru
Lalu Prawestiku, kenapa engkau masih menangis?
Sudah cukup! Yang kulihat dikau bukan lagi gadis
Tapi permaisuri jelita dalam melodi sansekerta
Nyanyikanlah lagu suka dalam diba’an cinta
Karena shinta tak paham benar akan notnya
Jadi kau shinta apa kabarmu?
Tak maukah kau menengok barang sejenak padaku
Lihatlah akan birunya masa lalu
Kau hendak jadikan ia ingatan layu
atau berbaik hati meneruskan cerita itu?
Prawesti jangan melototiku begitu
Tiada yang salah dalam pertanyaanku
Sukma Shinta benar tiada berlalu
Tapi hei! Lagu sansekertamu sedap benar mendayu-dayu
Shinta tidakkah kau kasihan padaku?
Akan logikaku yang matikutu
Akan tangis yang selalu datang dalam sepi rindu
Tapi apalah, hendak apa tiada kutahu
Prawesti sungguh jangan membenci
Kupikir semua ini manusiawi
sungguh aku binatang yang selalu ingin memiliki
binatang jalang yang takkan puas kehendak robi
Aku, binatang jalang dalam puisi chairil anwar
Tenggelam dan tersesat dalam belantara duka
Merajuk, ingin sekali meminta kabar
Memohon, akan ampunan prawesti tercinta
Aku, binatang jalang dalam puisi chairil anwar
Tiada tahu harus berbuat apa
Kepada Shinta aku merindui
Kepada prawesti aku tak ingin melukai