UNTUKMU AYAH
Oleh Anisa Bahril Wahdah
Ketika sang fajar mengeluarkan sinar
Dengan suara kicauan burung yang terdengar riang
Embun mulai meneteskan airnya di bawah jendela
Dan mata mulai terbuka untuk hari yang indah
Kulihat ayah terbangun dari ranjangnya
Dengan tubuh yang lemah beliau berjalan
Menatap istri dan anak-anaknya dengan senyumam
Namun, dalam hati beliau bertanya
Kemana beliau akan pergi untuk mencari nafkah
Dengan langkah yang kuat, dan senyum yang indah
Beliau pergi dengan sejuta harapan indah
Ketika sang meajar terbenam nanti
Ayah pulang dengan sekarung emas
Namun, harapan itu hanya tertulis indah di hatinya
Beliau kecewa dengan apa yang di bawanya
Dengan berat hati sebungkus nasi beliau berikan kepada kami
Ma.afkan kami ayah...
Kami tak pernah mengerti penderitaan mu di luar sana
Ayah.. karenamu lah aku berani menggantungkan cita-citaku
Menjadi seorang anak yang mulia di matamu