TAFAKUR LUKAOleh Rusminah Qumainah
Di sudut senja yang muram itu aku tafakur.
Pada langitnya yang menggurat merah.
Pada hitam siluet kehidupan menjelang malam.
Pada azan yang tak lagi memanggil kedamaian.
Lengkung langit mengelabu,
buram dalam hamparan debu.
Terus dilukai bisingnya peradaban.
Mempolusikan nyala cinta di dada.
Yang dicemari!
Yang terkontaminasi!
Aku masih tafakur. . .
Pada bayanganku yang menjauh.
Ku genggam hati yang terlanjur merapuh.
Ku renggut paksa pada liangnya_
melahirkan kosong. .
Ku cengkeram penuh dendam,
hingga berdenyar darah terdengar.
Karena pada kedalaman lubuknya, segores luka pernah ada. . .
(Mei 2009)