PENJUAL MAINAN ANAKOleh Anjab
Di sela perjalanan dia berhenti
menengok ke belakang tentang masa hidupnya
dia laksana batu karang bertahan di tengah arus sungai
dilampaui hiruk pikuk rintang sampah dan derasnya air
Dia pernah bertahan melawan silaunya zaman
ribuan derai hujan tak membuatnya tenggelam dalam kesedihan
debu jalan hanya mengotori sudut luar dirinya
dia masih berdiri dan melangkah siang dan malam
melewati pelosok desa kota dan persimpangan
Tapi kini dia merasa sedih
dia laksana sepah yang tak lagi mengeluarkan guna
berbagai ilmu hidup yang begitu besar di genggamnya
tak mampu menampung kegusaran dalam hatimya
dia berasa harus ada yang dilakukan
tapi entah dia tak mampu menahan besarnya gundah
Seakan jutaan tangan membungkam mulutnya tuk berkata
seperti puluhan tangan menjegal kakinya tuk melangkah
selaksa persoalan bersinergi menghentikan pikirannya
seakan waktu berhenti dalam hidupnya
Mungkin ini saatnya perhentian itu
dia rebah dan tak melakukan apa
seakan hidup segan mati tak mau
hanya berteman nafas dan denyut nadi ditubuhnya
mungkin esok ...
21 September 2014
Anjab