PEMULUNGOleh Nandi Mulyadi
Di mana datangnya malam semata wayang
Yang menusuk tulang
Sepi membisu menatap kosong ke langit yang murung
Dentuman dan
riuhnya binatang malam menemani dinginnya malam
Sepucuk daun yang bersinar menyambut cahaya sang rembulan yang masih malu-malu di tutupi awan
Sedikit bersinar memantulkan cahaya dari sang rembulan
Beradu mengisi dan menyambut gelapnya malam
Semburat angin malam menggigit tulang menyapa dedaunan yang membisu binantang malam mulai malas menemani waktu yang panjang
Sekumpulan dedaunan menari menikmati kedatangan sang angin
Wajah separuh baya dengan mata sayup terpaksa bergelut dengan dinginnya malam
Demi secarik kertas berharga
Setumpuk berkas bau dan kotor di aduk dengan pensil andalannya
Berangkas lunak dan lusuh di pundaknya menemani setiap langkahnya
Kemeja lusuh tak berdasi warna kusam pilihan kebanggaan tak lain dan tak ada
Hanya itu yang ia punya
Kaki telanjang penopang kokoh berdirinya pria separuh baya
Pandangan yang mulai pudar bukan berarti halangan untuk memecah gelapnya malam.