MONOLOG HATIOleh DK. Putra
Bersama putaran waktu,
Aku kerap mencuri pesonanya tanpa ia tahu.
Kuubah menjadi kata demi kata;
Kugores lewat tarian pena;
Kutulis menjadi kumpulan puisi ungkapan hati.
Tapi…
Tak satu pun puisi pernah kubaca di dekatnya.
Bersama desah nafas dan denyut nadi,
Tiada jenuh kuingat namanya saban hari.
Yang terselip diantara lirik dan nada lagu cinta yang kulantunkan dalam hati.
Tapi…
Tak satu pun lagu pernah kunyanyikan di hadapannya.
“Oh Tuhan…
Apakah aku terlalu lancang mencintainya?
Dan mungkinkah yang kuharapan bisa menjadi kenyataan?
Tapi Tuhan, aku pun sadar, bahwa langit dengan bumi lah aku dan dia adanya."
Sungguh…
Ingin sekali kuungkap semua di hadapannya.
Tapi…
Aku justru takut bilamana dirinya malah tertawa,
Atau…
Cuma sekadar kasihan atas cintaku yang terpendam selama ini.
Ya…
Sebentuk cinta senyap yang tersembunyi dalam lemari hati;
Sebentuk cinta yang hanya bisa kutulis tanpa bisa kuucap dengan sempurna;
Sebentuk cinta yang kutakutkan hanya berujung elegi;
Sebentuk cinta sederhana dari seorang manusia tuna wicara,
Sungguh…
Aku ingin sekali ucapkan kata ‘cinta’ di hadapannya,
Namun kutahu ku tak bisa,
Karena kebisuan t’lah mencintaiku terlebih dahulu,
Jauh sebelum pandangan pertama di antara dua pasang mata.