KAKEK NENEK DI KERETA
Oleh Mega Laksmitha Pertiwi
Tepat sehari sebelum Hari Kartini.
Keretaku bergerak kasar, derunya membuatku waswas akan bahayaa yang tak kutahu di depan sana.
Semula, perjalanan ini membuatku jengah, sampai...
Aku melihat mereka.
Pakaian yangg sederhana,
Tas lusuh yang terlihat banyak menempuh perjalanan,
Sandal japit oranye yang mulai menhitam,
Dan kaos kaki melar menempel pada kaki keriput.
Tak kusangka, aku berhadapan dengan sepasang suami isteri setia.
Aku begitu terpana, melihat kemesraan mereka,
Berkata dengann lembut dan saling menyimak,
Bertatap dengan penuh kehati-hatian,
Mengalah dengan satu pengorbanan "sederhana"
Tak hanya itu, aku semakin iri,
Saat sang nenek merasa lelah di punggungnya,
Sang kake membiarkannya tertidur menempati ruangnya,
Kursi sudut siku-siku kereta ekonomi pun menjadi tempat tidur sang nenek.
Duuuh, apa resep rahasia kalian?
Kek, kake begitu sabar menjawab pertanyaan nenek yang itu itu saja,
Memberikan ruang dudukmu yang paspasan padanya, dan kau duduk tegap menjaganya (disisa kursi yang kaudapat)
Sungguh, Kek, aku ingin seperti itu.
Nek, nenek begitu sabar melayani kakek yang ingin ini itu,
Sigap menyuguhkan teh yang kau bawa di termos usangmu,
Berusaha keras menuangkan air panasnya padahal kereta melaju kencang.
Nenek tak taakut tersiram air panasnya?
Sungguh, nek, aku ingin seperti itu
Pasangan ini, membuatku sesak,
Penuh hati dan imajinasiku tentang aku dan mahramku kelak.
Aku ingin seperti mereka.
Mereka (sudah) tua, keriput, sederhana, tapi tetap setia.
Aku ingin melayani suamiku sampai mati.
Suamiku yang membawaku pada rumah peristirahata terakhir disana,
Di surgaMu..