SURAT KEPADA BIDADARI
Oleh Galang Adhi S
Teruntuk adinda yang masih berupa tanda tanya…
Maaf
Bidadariku… jika aku terlambat menjemputmu. Namun sampaikah pesan yang
kutitipkan pada angin di tepi sunyi kala itu? Tentang sebongkah rindu
yang tak mampu lagi kuredam dalam kalbu. Tentang segenggam peluh yang
menguap atas letihku, demi menyambut lentik cantik jemarimu.
Maaf
Bidadariku… jika aku tak segera mengejarmu. Itu bukan karena ku tak
mampu atau bahkan tak peduli pada detik yang terus memburu. Tapi karena
kutahu, indahnya pertemuan bukan terletak pada percepatan waktu, apalagi
dengan lamanya menunggu. Aku hanya tak mau mataku buta, sehingga tak
mampu lagi membedakan mana cinta dan mana bencana.
Maaf
Bidadariku… jika aku membiarkanmu berlalu. Aku hanya tak ingin
mengajakmu terbang, sementara sayapmu masih dapat berkembang. Kubiarkan
engkau untuk terus maju, hingga nanti kita bisa bersama mengukir sejarah
baru tanpa banyak berseteru.
Maaf Bidadariku… jika aku masih saja
terpaku. Ada banyak rahasia yang masih belum bisa kumengerti, mengingat
hatimu serupa lautan misteri yang tak berkesudahan untuk diselami. Beri
aku sedikit waktu, agar aku pandai meramu, hingga senantiasa kusemai
cahaya dari jelita wajahmu.
Maaf Bidadariku… jika aku membuatmu
menunggu. Namun bukankah penantian itu menjadi bukti nyata adanya
perjuangan? Bukankah perjuangan itu menjadi bukti nyata adanya cinta?
Maka biarkanlah waktu yang akan menyibak semua tanya, kapan kita bertemu
dan bagaimana kita bersatu. #