LENA DIRI DALAM BINAR ABADIOleh Azmil Khadijah
Andai sayap Tuhan tak mampu menggapai,
saat kegelapan mulai menggelar jubahnya,
memaksa mendekat, dan mengusirku jauh dari sang raga
sampul sudah tak mampu lagi menyembunyikan
hari dimana semuanya berhenti dan mulai sunyi
berteman kosong yang rasa pedih
karna menyesal tak benar-benar gunakan hari
Berandai semuanya menjadi takpasti
dan bertumpu lagi pada senangnya hati
semua terenggut, habis, luluh lantak
tak bersisa, tak berjiwa..
hanya dingin dan hampa
Sepanjang jalan setapak yang kuarungi ini
aku melihat siapapun yang tak ingin kulihat,
aku merindu, aku menangis, aku berteriak, tapi tidak.
kenyataannya aku diam, dan melihat diriku sendiri,
saling menatap, aku dan diriku,
Membeku..
Seperti halnya bulan melihat dirinya sendiri,
dalam air tenang.
Sesal datang menertawakanku,
yang diam dipojok penderitaan waktu
tak memberi belas kasih atas keterpurukanku
jatuh dan tidak diperdulikan,
semua orang menatap dengan penuh kesedihan,
seakan waktu memaksaku mengumpulkan tetes demi tetes
dan menyakiti mereka dalam diam..
Seandainya aku tak begini,
seandainya masih mampu berdiri,
aku akan pergi dan tak lagi merintih
melukis kembali garis batas yang kuingkari
dan berjalan dalam arus deras tak berhenti..
Kini berlayar dalam dunia abadi
tanpa jiwa tanpa hati,
tanpa rubi dalam diri,
kosong, hilang, melukis Sang Pemberi..
harap rapuh tak sesakit ini..