PARIKESIT BANGKIT
Oleh Afit Riawan
Sungguh tak pernah pemilihan umum seindah ini.
Hanya ada dua calon Presiden membuat perhelatan seperti
halnya serunya sebuah pola Final Ideal pertandingan sepak bola.
Dua calon dan pendukungnya menjadi dua daya-upayanya
yang sama kuat, dan koalisi sama-sama erat.
Hingga pertarungan isi padat kala masa debat.
Kecintaan massa pada calon presidennya yang seratus
persen adalah nyata realita suatu indikasi positif.
Karena majunya bangsa harus terbungkus
seimbang sinergis: presiden aktif dan rakyat partisipatif.
Tidak yang menang baik nomor satu atau dua.
Tidak pula dimenangkan oleh Bowo atau Widodo.
Pemenang adalah pemilih, pemilih adalah rakyat.
Pemenang adalah rakyat, rakyat adalah pemenang.
Ini kemenangan semua baik yang memilih no. 1, yang memilih
nomor no. 2, maupun yang memilih untuk tidak memilih.
Aku, setidaknya ada empat orang sahabat
Mereka tak pernah peduli “pencoblosan” apalagi terlibat.
Tapi kehadiran dua putra terbaik bangsa
mampu membangkitkan akal sehat dan rasa
kepedulian untuk Indonesia tercinta,
membiarkan waktunya sejenak tersita,
mambuat jadi jarinya tercelup tinta.
Sampel yang bisa jadi terjadi daerah
lain dan menjadi representasi sejarah
bahwa rasa cinta rakyat pada pemimpin dan negara
sedang mulai bangkit di seluruh nusantara.
Karena kita pun dapat melihat gelombang antusiasme
lewat layar kaca yang menggejala tanpa mekanisme.
Mari kita bermain ular tanpa tangga.
Cobra patukannya melegenda tanpa harus pandai melilit.
Python lilitannya meleganda tanpa harus pandai mematuk.
Indonesia hanya perlu mengoptimalkan kekayaan
alamnya sebagai senjata utama untuk kemajuan.
Indonesia negara: agraris dan maritim.
Baru berbarengan sektor-sektor lain.
Jawabnya adalah benar, jika Widodo hanyalah boneka.
Jika Muhammad adalah “boneka” Tuhan bagi umat manusia.
Dalam lingkup lain, Widodo hanyalah boneka-Nya untuk Indonesia.
Seorang boneka ramah dan amanah bagi rakyat Bhineka Tunggal Ika.