JAKARTA DENGAN SEGALA PESONANYA
Oleh Dewi Nurbaiti
Lampu mall ini ternyata cantik
juga kalo malam. Waktu itu sekitar jam 19.00 wib saya masih duduk manis
di depan lobinya. Orang-orang sibuk dengan kepentingannya masing-masing
di warung besar nan megah ini. Entah apa yang mereka lakukan, atau bisa
jadi hanya sekedar menunggu jemputan seperti saya.
Kendaraan
hilir mudik tak henti-hentinya. Penumpang satu persatu turun terus
memadati bangunan berlogo onta di utara Jakarta. Seakan kehidupan begitu
meriah tanpa akhir dibelahan ini.
Lampu pohon yang saya
perhatikan setiap detiknya berganti warna, turut memeriahkan gemilangnya
malam bagi seluruh pengunjung. Berbagai lapisan usia saya lihat disini.
Dan hei, bukankah ini sudah malam? Ya bagi saya menjelang larut malam
ini namanya. Tapi mengapa usia bayi dan balita baru saja turun dari
mobil mewahnya dan bersegera masuk ke gedung tinggi besar ini? Jam
segini kah romantisme keluarga mereka baru akan dimulai? Sayang sekali.
Saya
juga tidak sedang menyusun romantika mulia malam ini bersama desir
angin. Rindu dan Arjunaku sudah menunggu di rumah, dan sedang memasuki
jam-jam biologis manusia untuk istirahat. Tapi mereka? Hohoho... Biarkan
saja, toh setiap manusia berhak hidup dengan gayanya masing-masing
bukan?
Melihat sedikit jauh ke depan, dan menaikkan pandangan
kurang lebih 30 derajat akan terlihat jelas jalan layang yang juga masih
sibuk. Kemacetan masih tampak jelas disana. Ya, inilah Jakarta dengan
segala pesonanya. Kapan orang-orang ini tidur? Kapan mereka berhenti
beraktifitas, kapan mereka memanjakan tubuhnya? Kapan mereka memberikan
hak pada raganya? Hah! Jakarta yang indah, mampu membuat semua orang
sibuk dengan harapannya masing-masing.
Pesona gedung-gedung
tinggi juga menjadi cerita menarik bagi saya. Rumah susun elit, atau
apartemen. Terbayangkah dipelupuk matamu? Bagaimana bisa hidup tanpa
menginjak tanah? Ah, tidak asik nampaknya bagi saya.
Setiap hari
naik turun lift, dengan tetangga rumah tak pernah tegur sapa, bahkan
mungkin tak kenal namanya. Setiap ingin makan selalu berlarian ke mall,
butuh cemilan langsung menyasar supermarket. Lalu dengan kehidupan yang
luar biasa seperti ini, apakah mereka kenal dengan bakwan jagung dan
benar-benar paham akan kelezatannya? Atau sekedar teh manis hangat yang
akan semakin nikmat jika diminum dengan sedotan! No, kembali saya
katakan, inilah realita, Jakarta dengan segala pesonanya.
Gemerlap
lampu warna warni yang selalu menghiasi Jakarta di malam hari adalah
salah satu favorit saya. Cantik, lucu, meriah, indah. Pohon menyala,
berbagai ukiran pewayangan, penerang jalan, hiasan gedung, hingga cahaya
sorot dari kendaraan yang memadati seluruh lapisan jalan ini bisa
menjadi kilatan yang indah jika diperhatikan dengan cermat.
Hembusan
angin malam ini mampu menerbangkan seluruh pikiran saya pada hebatnya
kota metropolitan ini. Sebuah kota besar dengan kehidupan yang keras,
namun kian mampu menghadirkan kemeriahan disetiap sisinya. Lagi-lagi,
itu adalah pesonanya.
Keindahan apa lagi yang belum saya tuliskan
disini? Banjir, ya lautan kecoklatan nan cantik rupawan yang menyebar
di berbagai titik Ibu Kota Negara. Tidak elok benar rasanya, ditengah
kehidupan yang meriah, lampu warna warni menyala disana sini, tapi
genangan air menjadi irama tersendiri dalam setiap pijakan kaki. Entah
ini salah siapa. Yang pasti ini tanggung jawab seluruh penduduk Jakarta
yang menikmati berbagai keindahannya.
Tapi, Jakarta juga bisa ramah. Jam 5 sore, menjelang senja, langit mulai jingga.. Ah.. Itu suasana yang paling saya suka!
Jakarta
yang sibuk, Jakarta yang ramai. Mungkin bagi sebagian orang bisa asik
hanya sebagai penikmat irama kehidupan yang terus menanjak. Dan Jakarta
sebagai pemeran utamanya, akan senantiasa hadir dengan segala pesonanya.
(Dnu, 25 Maret 2014. 03:21 waktu belahan Jakarta)